Cinta Tak Pernah Tepat Waktu adalah film Indonesia terbaik saya di triwulan pertama 2025. Bahkan, bisa dibilang, ini lebih baik daripada film The Dark Nun yang saya tunggu-tunggu sejak tahun lalu. Berawal dari membaca review pendek di X, saya tertarik untuk menonton film drama ini. Hasilnya, saya jatuh cinta banget seperti saat saya menonton Jatuh Cinta Seperti di Film-Film.

Saya telah menonton beberapa film Hanung Bramantyo yang lain dan pastinya saya sukai, seperti Kartini, Perempuan Berkalung Sorban, Bumi Manusia, dan Perahu Kertas. Kalau genre drama yang emosional, saya percaya dengan tangan dingin Hanung. Saat menonton Cinta Tak Pernah Tepat Waktu, saya langsung menjadikan film ini di puncak teratas karya Hanung yang saya sukai.


Puitis Tidak Membosankan

Film ini diadaptasi dari novel yang berjudul sama karya Puthut EA. Bercerita tentang tokoh utamanya, Daku (Refal Hady) yang menjadi seorang penulis pesanan untuk penerbit. Monolog-monolog yang diucapkan Daku ini puitis khas penulis. 

Namun, saya merasakan sesuatu yang berbeda sejak awal. Meskipun ini film drama yang saya kira akan lebih banyak membahas romantisme cinta dengan debaran atau nylekit sedikit karena luka asmara, ternyata atmosfer ketegangan justru bisa saya rasakan. 

Daku bermimpi buruk tentang Nadya (Nadya Arina) yang mempertanyakan keseriusan hubungan mereka. Seperti dikejar hantu, Daku terbangun dengan bersimbah keringat dan segera melihat pukul berapa ia bangun. Ia pun harus segera mengejar deadline tulisannya.

Semakin lama saya menonton film ini, maka saya makin tahu jika konflik ini menggunakan konflik batin sebagai permasalahan utamanya. Puitis dan jelas tidak membosankan. Saya pun menebak-nebak seperti apa kehidupan Daku berakhir dan siapa pula yang akan menjadi jodohnya karena ia memiliki fobia dengan waktu.





Twist yang Tidak Biasa

Siapa bilang plot twist hanya bisa ditemukan di cerita genre misteri dan horor? Bisa saya katakan kalau untuk pertama kalinya, saya sulit menebak arah film ini. Saya bersyukur karena belum membaca novelnya karena saya pasti akan membanding-bandingkan dengan novel.

Daku yang punya fobia terhadap Waktu bisa mendadak stres berat menjurus depresi dan membuatnya berusaha lari atau berkejaran dengan waktu. Lintasan hidup membawanya pada kisah-kisah cinta berikutnya yang justru meremukkan eksistensi Daku terhadap dirinya.

Ketika saya bisa melihat sebuah peluang bagus bagi Daku untuk segera sembuh dari fobia, ternyata muncul pembelokan plot yang membuat saya sampai berteriak dalam hati. Sinematografi cantik dengan monolog-monolog Daku yang diselipkan di sepanjang film justru membuat saya tidak berhenti melirik gawai ketika sedang menonton. Roman, drama, tetapi membuat saya tegang penasaran.

Cinta Tak Pernah Tepat Waktu  adalah sebuah film yang sangat apik dalam merekam isi novel menjadi tayangan layar lebar. Pasti akan ada detail dari novel yang tidak tertangkap sepenuhnya, tetapi kalau melihat POV yang digunakan adalah dari sudut pandang Daku, maka bisa saya bilang ini adalah film yang sangat hebat sehingga sebagai penonton saya bisa merasakan semua pedih dan berdebarnya Daku.

0 Komentar