Teka-Teki Karakuri yang Dipecahkan Kecerdasan (Review Tomb Raider 2018)



Siapapun tak bisa memungkiri jika pesona Angelina Jolie sebagai Lara Croft masih belum lekang sampai satu dekade lebih pasca film pertamanya tayang. Namun setelah saya melihat Lara Croft versi baru yang diperankan oleh Alicia Vikander ini kemarin, bayangan saya langsung berubah total. She is totally badass heroine now! 


Revies Tomb Raider 2018
Lara Croft pakai panah, jatuh cinta deh macam sama Katniss 😍


Memang saya sangat tertarik dengan film-film Hollywood yang mengusung perempuan sebagai pahlawan utamanya. Sampai sekarang saya menggemari Jennifer Lawrence dan Galgadot. Tak hanya karena mereka sukses memerankan tokoh yang super jagoan, tetapi juga karena kepribadian mereka yang menarik dan sangat outspoken, berbeda dengan aktor dan aktris Hollywood lain yang terkesan terlalu jaim. Baru kali ini saya menonton akting Alicia Vikander dan langsung jatuh cinta dengan caranya memerankan Lara Croft  versinya sendiri, tanpa berusaha sekeren Angelina Jolie.


Film Tomb Raider 2018 dibuka dengan sebuah dongeng menarik mengenai Ratu Himiko yang dipercaya menebarkan kematian dan kengerian di dunia saat ia hidup. Karena dianggap sangat berbahaya, maka pasukan Jepang terpilih di masa kuno itu bersatu untuk mengubur hidup-hidup Sang Ratu di bawah gunung jauh dari jangkauan orang. Gunung tersebut berlokasi di tengah lautan lepas. Richard Croft (Dominic West), ayah Lara Croft,  adalah businessman kaya raya yang memiliki ketertarikan besar pada hal-hal berbau peninggalan sejarah serta mitologi. Dan demi menemukan bukti atas makam Ratu Himiko, Richard Croft pergi lalu  tak kembali hingga 7 tahun. Tak ada mayat yang  ditemukan hingga para tim pencari sudah menyerah sejak lima tahun pasca sang jutawan menghilang.


Saya tak pernah menonton Tomb Raider versi Jolie sampai full, hanya sekilas-sekilas saat ditayangkan di televisi. Dan menurut saya, seorang Lara Croft itu memang identik dengan gaya cool, jago martial art, serta pastinya punya sorot mata cerdas.

Tomb Raider 2018 juga dibuat lebih mendekati versi video gamenya.
Hal yang menarik dari film versi 2018 adalah bagaimana alur dibuat dengan cermat, tidak tergesa-gesa dan menjadikan saya bisa memahami secara perlahan bagaimana Lara Croft berkembang dari seorang gadis yang penasaran di mana ayahnya menghilang, menjadi seorang pejuang perempuan yang rela berkorban bahkan menyingkirkan perasaannya sendiri (nanti bisa dilihat pas menuju ending film, biar nggak spoiler, :p). Rasa ingin tahu itulah yang menjadi senjata utama Lara Croft. Daya ingat yang tajam juga memudahkan Lara untuk menganalisa  serta memecahkan misteri mengenai makam Ratu Himiko.

Lara Croft & Lu Ren, kayanya cocok kalo jadian :D

Untuk adegan action sangat terasa suasana video gamenya. Di mana tokoh utama akan menyelesaikan satu demi satu stage petualangan di dalam game dan akan menemukan solusi tiap kali nyawanya hampir saja terancam. Saya akui ketegangan itu sudah ada sejak setengah jam pertama film tayang sampai ending, namun ada beberapa bagian yang mungkin kurang masuk akal meski tetap tak mengurangi kerennya film ini. Setelah mengarungi samudera luas bersama sahabat barunya, Lu Ren (Daniel Wu), Lara Croft menemukan Pulau Yamatai. Musuh mereka saat di tengah pulau asin. g  itu adalah Vogel (Walton Goggins) yang siap membunuh pekerjanya jika dirasa menghalangi proses pencarian makam Ratu Himiko.


Vogel dibayar oleh sebuah sekte bernama Ordo Trinity yang bercita-cita untuk menguasai seluruh kekuatan supranatural di dunia. Vogel tidak diperkenankan keluar dari pulau sebelum menemukan makam Ratu Himiko. Kejutannya, Richard Croft ternyata masih hidup. Lara Croft berhasil memecahkan teka-teki ayahnya dari sebuah pemainan karakuri. Bahkan ketika menemukan gerbang makam pun Lara Croft menggunakan teknik permainan karakuri sampai pintunya terbuka.


Hal yang kurang masuk akal itu misal bagaimana Richard Croft masih memiliki suplai obat-obatan selama 7 tahun dalam persembunyian. Ia bisa menjahit luka Lara akibat tertusuk besi rongsokan pesawat di Pulau Yamatai. Lalu karena suasana video gamenya sangat terasa, saya jadi memiliki perasaan tak terancam sama sekali. Kan dalam video game, tokohnya pasti akan menemukan cara untuk lolos dari kejaran musuh atau masalah yang ia hadapi. Untungnya pemeran Lara Croft yang juga menyabet Piala Oscar sebagai Supporting Actress 2016 ini bisa membuat saya percaya jika dirinya pun tak mudah dalam menjalankan misi. Kecerdasan adalah senjata utama Lara Croft. Karena analisa tajamnya ia menemukan misteri asli dari Ratu Himiko yang ternyata salah diinterpretasikan banyak orang. Selapis demi selapis tantangan di dalam makam pun berhasil dipecahkan karena otak brilian Lara dan insting detektif arkeologinya.


Film ini sangat cocok ditonton remaja usia 17 tahun ke atas. Adegan kekerasannya  tak terlalu intens dan cenderung seru. Tak ada adegan mesra di sini yang justru membuat saya tak mengantuk sejak menit pertama. Semoga jika dibuat sekuel, film ini bisa mendulang kesuksesan yang sama. Dari endingnya akan kita ketahui jika musuh utamanya masih bebas melenggang di luar.

Now I see the lightness to the recklessness - Lara Croft 

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.