Review Kartini 2017: Suara Perempuan Yang Dikungkung Status Sosial

review Kartini 2017



Menonton film ini membuat saya menangis sesenggukan sekaligus marah. Marah pada ketidakadilan di masa lalu dan betapa rendahnya posisi perempuan di masa kolonialisme. Raden Ajeng Kartini berani mempertanyakan hal tersebut meski pada akhirnya harus rela menerima pinangan seorang bangsawan beristri tiga dan meninggal di usia muda pasca melahirkan putra semata wayangnya. Film yang dibintangi Dian Sastrowardoyo ini begitu menggugah hati saya agar lebih berempati kepada sesama perempuan.

review Kartini 2017
Kartini, Roekmini, Kardinah yang sedang membaca (dok. pribadi)

Film Kartini dibuka dengan adegan Kartini muda (Dian Sastro) yang berjalan sambil jongkok. Itulah tata krama yang diajarkan bangsawan zaman dulu. Seorang abdi dalem harus berjalan jongkok jika dipanggil majikannya dan seorang putri bangsawan pun wajib berjalan jongkok jika dipanggil ayahandanya. Kartini yang juga dipanggil Trinil sudah menunjukkan jiwa pemberontaknya sejak anak-anak. Ia terlahir dari seorang rakyat jelata yang diperistri Bupati Rembang masa itu. Karena ibu kandung Kartini bukanlah seorang bangsawan, maka Kartini harus rela tidur terpisah dari ibunya dan diharuskan memanggil ‘Yu’ bukannya ‘Ibu’. Ibu tiri yang berdarah bangsawan, istri kedua Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat, yang berhak mengatur kehidupan rumah tangga dan juga mengatur Kartini serta putri-putri lainnya.

Trinil menjalani pingitan semenjak masa menstruasi pertama. Ia tak pernah melihat luasnya dunia di luar rumahnya. Ia pun hanya bisa mencicipi pendidikan sampai usia 12 tahun saja,  namun kecerdasan dan juga kemampuan berpikirnya tak bisa diremehkan.

“Tubuh bisa hancur dimakan tanah atau dibakar di atas kayu bakar, tetapi pikiranmu tidak ada batas waktunya.” Itulah yang dikatakan Sosrokartono, kakak kandung Kartini yang menginspirasi adiknya supaya tidak berputus asa meski hidup dipingit.

Film ini sangat bergizi terutama dari bagaimana sosok Kartini berusaha mendorong kedua adiknya, Kardinah dan Roekmini untuk doyan membaca dan juga berani menjadi diri sendiri, meski hanya ketika berada di kamar pingitan. Dari bacaan yang banyak itulah, pikiran mereka bertiga makin luas sampai mengasah kemampuan Kartini dalam menulis artikel. Ketajaman berpikir Kartini pun diakui oleh petinggi Belanda pada masa itu.
review Kartini 2017
Kartini dan sahabatnya Nyonya Ovink Soer (dok. pribadi)

Konflik yang terjadi juga sangat menguras emosi. Ketika Kartini dihalang-halangi untuk berdikari oleh Slamet, kakaknya sendiri dan juga pernikahan Kardinah yang tiba-tiba. Ketiga gadis itu dipaksa untuk melepas angan-angan mereka untuk hidup mandiri tanpa harus bergantung pada status bangsawan dan juga tunduk di bawah pria. Kita juga tak hanya melihat pemberontakan Kartini pada kungkungan tradisi, tetapi juga belajar mengenai kesabaran dan arti pengabdian dari sosok ibu kandung Kartini yang diperankan Christine Hakim. Nasehat Yu Ngasirah itulah yang melunakkan Kartini agar mau dipinang.


Mungkin kiprah Kartini ini masih mengundang banyak kontroversi, namun setidaknya kita menjadi tahu bagaimana perempuan tak memiliki suara di masa lalu, lewat surat-surat Kartini kepada sahabat baiknya di Belanda. Bukankah di masa kini pun, peran perempuan juga masih dibayang-bayangi pemikiran patriarkhi di masyarakat? Betapa banyak pro kontra soal ibu bekerja sambil berumahtangga atau perempuan berpendidikan tinggi yang dianggap menyaingi laki-laki. Film ini wajib ditonton masyarakat Indonesia agar pikiran kita bisa lebih terbuka. Satu kalimat yang terus terngiang-ngiang di telinga saya setelah menonton adalah pertanyaan Kartini kepada seorang ulama yang berceramah di kediamannya.

"Apakah membaca itu hanya untuk laki-laki?"

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.