Review Wonder Woman: Kritik Perempuan di Dunia Maskulinitas Pria

Diana (Galgadot) menjadi simbol kekuatan perempuan di saat  zaman perang dunia, maskulinitas dianggap lebih unggul. Putri dari Ratu Amazon  ini tak hanya kuat, tetapi juga keluguannya untuk mencari sosok Ares sang Dewa Perang, meluruhkan egoisme pria yang sedang berjuang di tengah kancah peperangan.
Tak berbeda dengan film Hollywood lainnya, efek scifi dan sentuhan teknologi yang memukau memang selalu memanjakan mata penonton. Namun tak semua film superhero mengusung message yang sangat bagus sejak awal dan konsisten hingga akhir. Buat saya yang memang menjadi pengagum film-film Hollywood sejak kecil, mengamati alur adalah poin yang saya perhatikan. Dari awal hingga tengah cerita, alur masih bisa saya tebak kira-kira mau kemana.
Tokoh pria yang diselamatkan Diana, Putri dari Pulau Themyscira, bisa dilihat jika akan memiliki perkembangan hubungan spesial dengan si pahlawan perempuan. Petualangan bersama yang menumbuhkan rasa, tipikal film Hollywood. Namun yang menjadi poin plus adalah, film ini hampir tidak menyajikan adegan mengumbar birahi seperti film lainnya. Hanya ada satu adegan yang menunjukkan intimitas sang Wonder Woman dengan Steve Taylor (Chris Pine), itupun hanya sekilas. Selebihnya film ini fokus pada pesan dan karakter pemainnya.


Diana, dibesarkan di pulau yang isinya dipenuhi perempuan tangguh bernama Themyscira. Pulau tersebut dikaruniai Zeus agar terlindung dari Ares, sang Dewa Perang yang ingin merusak dunia. Walaupun sejak kecil ibunda Diana berusaha menjauhkan putrinya dari pelajaran bertarung, namun Diana kecil diam-diam minta didikan dari Antiope, bibinya yang juga jenderal hebat. 



Perempuan di Themyscira memang jago berperang. Kemampuan berkuda, memanah hingga gulat mereka sama sekali tak dapat diremehkan.
Steve Taylor dan pesawatnya terjatuh di lautan dekat Themyscira saat sedang menjalankan tugas sebagai mata-mata Inggris. Pesawatnya mengalami kerusakan setelah dikejar-kejar pasukan Jerman. Dari sinilah Diana akhirnya bergabung  dengan Steve ke dunia manusia dimana Perang Dunia sedang berlangsung gencar.

Beberapa adegan dan dialog sungguh menggelitik saya dari film ini. Seperti saat Diana dan Steve berlayar berdua. Steve sangat kikuk ketika Diana memintanya untuk tidur di sampingnya. Diana berkata kurang lebih begini,''Aku tahu proses reproduksi laki-laki dan perempuan, tapi di tempatku dijelaskan jika perempuan juga bisa hidup tanpa pria. Kami bisa menjalani hidup tanpa harus merasakan kepuasan fisik.''

Lalu di adegan saat sebuah pertemuan penting di dewan Inggris dan Diana menyelinap masuk. Mereka sangat heboh sebab Diana adalah perempuan. Seorang pria tua berucap,''Kenapa seorang perempuan bisa masuk ke pertemuan ini?"
Diana yang membawa pedang Godkiller kemana-mana, sangat gemas dengan tindakan lamban para pasukan Inggris. Ia sangat terpukul setelah tahu peperangan banyak menimbulkan korban rakyat kecil dan anak-anak mati sia-sia. Justru kenekatan Diana menerjang desingan peluru pasukan Jerman, membangkitkan semangat Steve dan kawan-kawannya untuk merangsek ke garis depan. Adegan ini sangat berkesan di kepala saya, terutama saat Diana hampir menangis melihat perempuan serta anak kecil menderita di tengah medan perang.

Film ini tak hanya sebuah film superhero, tetapi juga film patriotisme. Istimewanya patriotisme tersebut terwakili oleh perempuan. Perempuan yang dinilai dari kecantikan fisik, sebenarnya punya sisi lebih yang tak bisa diremehkan. Peran dan dukungan perempuan dalam keluarga dan pasangan, bisa menjadi sumbu api yang terus mendorong semangat. Jangan remehkan perempuan, terutama seorang Wonder Woman!

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.