Romansa yang Terjalin dari Buku, Review Beauty and The Beast


Beauty and The Beast adalah film musikal yang baru saja rilis pertengahan Maret tahun ini. Emma Watson ditunjuk sebagai pemeran tokoh Bella yang cantik dan cerdas. Kabarnya, demi berakting di film ini, Emma rela menolak tawaran sebagai pemeran utama di La La Land yang akhirnya jatuh kepada Emma Stone.

Film Beauty and The Beast dibuka dengan pembuka yang tak biasa, yaitu masa lalu The Beast yang senang berpesta serta bersikap seenaknya. Sedikit berbeda dengan versi kartun Disney. Penonton jadi tak perlu meraba apa penyebab si pangeran tampan mendapat kutukan dari penyihir yang mampir ke istananya di tengah pesta.

Jika ditilik lebih dalam, sebenarnya  Beauty and The Beast adalah dongeng Disney yang penuh dengan kritik sosial. Seperti halnya Pocahontas dan Mulan, tokoh Bella bukanlah sosok putri cantik yang duduk diam menunggu pangeran idamannya datang. Bella menolak keras pinangan dan cinta Gaston, tokoh pemuda paling kuat dan tampan di desanya. Meski Gaston menjadi idola banyak perempuan, Bella sama sekali tak meliriknya.

Di desanya, Bella memang dikenal sebagai gadis paling cantik namun juga dicap sebagai gadis aneh. Frasa 'odd' dalam bahasa inggris mungkin mirip konteksnya seperti 'freak'. Bella memiliki dunia sendiri dalam imajinasi dan juga buku-buku yang ia baca. Bella juga tak suka unjuk kecantikan serta tak mau banyak bergaul dengan penduduk desa. Penduduk desa melabelinya gadis aneh, otomatis Bella akan lebih memilih untuk bersembunyi di rumah bersama ayahnya yang bekerja sebagai penemu dan juga bukunya. Fenomena ini mengkritik anggapan masyarakat zaman dahulu, bahkan di Eropa zaman pertengahan jika perempuan yang cerdas serta punya pemikiran sendiri, tidak menjadikan mereka dihargai. Kecantikan dinilai dari wajah, tubuh dan pakaian.

Perempuan cerdas dianggap dapat menyaingi laki-laki. Hingga zaman modern pun bukankah anggapan itu masih tersisa? Walaupun sudah banyak masyarakat yang berpikiran terbuka. Bella yang tak nyaman hidup di desanya, bermimpi untuk berpetualang ke banyak tempat. Dan sebuah kejadian tak disangka
saat sang ayah dihukum Beast hanya gara-gara memetik sekuntum mawar, Bella punya alasan meninggalkan desa.

Romansa yang terjalin antara Bella dan Beast berjalan manis, lebih manis daripada versi kartun. Watak kasar Beast mulai dilunakkan kelembutan Bella. Lucunya dua orang itu juga sama-sama keras kepala. Dan mereka lebih akrab lagi setelah mengetahui jika sama-sama kutu buku. Bagaimana endingnya? Bagi penikmat kartu Disney pasti sudah tahu. Film ini memiliki alur yang baik dan pintar dalam menjaga emosi penonton. Seperti film musikal Mammamia yang penuh dengan musik serta akting memukau. Semoga saja film ini mendapat penghargaan pantas.

Tidak ada komentar:

Diberdayakan oleh Blogger.